Mewujudkan Murid berakhlak Mulia, Berprestasi, dan Berwawasan Iptek
Prov. DKI Jakarta

PROFIL SEKOLAH


Profil Sekolah

Nama Sekolah : SMP Negeri 6 Jakarta
Jenis Sekolah : negeri
Nss :
Npsn : 20103596
Tanggal Berdiri : 1979-09-17
Akreditasi : B
Program Jurusan :
  1. Umum
Izin Operasional :
Luas Tanah : 3956
Kurikulum : Nasional
Jam Aktif : 06.20 - 17.00
Jumlah Guru Staff : 30
Jumlah Siswa : 648
Jumlah Rombel : 18
Jumlah Prestasi : 22
Slogan Sekolah : Kami bukan yang terbaik, tetapi salah satu diantaranya
Kepsek : Reda Achiyat, M.Pd.
Nip : 197301141999032005
Masa Kerja : 3
Izin Memimpin : Ada
Status Kepegawaian : PNS
Pendidikan Terakhir : S2

Deskripsi Sekolah

https://drive.google.com/file/d/1krvGTdjIPLh2ZCVpOQKZwf_SafQnvRpF/view?usp=sharing

 

Kekhasan SMP Negeri 6 Jakarta

Murid

Tabel 1. Rekap Jumlah Murid SMP Negeri 6 Jakarta TA. 2025/2026

 

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Total

Jumlah Rombongan Belajar

VII

114

98

212

6

VIII

114

102

216

6

IX

109

107

215

6

Total

337

307

643

18

Berdasarkan laporan Rapor Pendidikan SMP Negeri 6 Jakarta tahun 2025, serta tinjauan pendapat para ahli pendidikan, karakteristik murid dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kemampuan Literasi: Kemampuan literasi murid berada pada tingkat yang Baik (86,67% murid sudah mencapai kompetensi minimum), artinya sebagian besar murid telah mencapai batas kompetensi minimum untuk literasi membaca, dan sebagian besar mampu memahami informasi implisit dalam teks dan membuat simpulan berdasarkan informasi yang dibaca. Sebagian kecil murid bahkan dapat mengintegrasikan informasi lintas teks dan bersikap reflektif terhadap isi teks. Namun, masih ada kelompok murid yang hanya mampu memahami informasi eksplisit dan membuat interpretasi sederhana, serta sebagian kecil lainnya belum mencapai kemampuan dasar literasi. Kelemahan utama terlihat pada kemampuan memahami teks sastra dan mengakses isi teks, yang menunjukkan perlunya penguatan dalam memproses teks fiksi dan analisis yang lebih mendalam. Dalam penyusunan KSP, pembelajaran perlu dirancang untuk meningkatkan minat baca, terutama pada teks sastra, melalui kegiatan intrakurikuler seperti diskusi teks dan ekstrakurikuler seperti klub baca, serta latihan yang memperkuat keterampilan berpikir
  2. Kemampuan numerasi: Pada indikator kemampuan numerasi murid berada pada tingkat yang Baik (84,44% murid sudah mencapai kompetensi minimum), artinya sebagian besar murid telah mencapai batas kompetensi minimum untuk numerasi, dengan mayoritas mampu mengaplikasikan konsep matematika dalam konteks yang beragam, dan sebagian kecil dapat bernalar untuk menyelesaikan masalah kompleks. Namun, 2,22% murid hanya memiliki kemampuan dasar matematika yang terbatas: penguasaan konsep yang parsial dan keterampilan komputasi yang terbatas. Kekuatan terlihat pada kemampuan dalam domain aljabar dan menalar, sementara kelemahan utama ada pada pemahaman konsep bilangan dan pengolahan data serta ketidakpastian. Untuk KSP, pembelajaran perlu menekankan penguatan konsep bilangan melalui pendekatan berbasis Proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan kokurikuler seperti permainan matematika dan pelatihan kompetensi guru pada domain bilangan juga dapat mendukung peningkatan kemampuan numerasi murid.
  3. Karakter: Aspek karakter murid berada pada tingkat yang baik (Skor 58,86), dengan kebiasaan menerapkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, seperti akhlak mulia, gotong royong, kreativitas, nalar kritis, kebinekaan global, dan kemandirian. Murid menunjukkan kekuatan pada nilai-nilai beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta kebinekaan global, yang mencerminkan kemampuan mereka dalam menghargai keragaman dan menjalani nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kelemahan terlihat pada dimensi nalar kritis dan gotong royong, di mana murid perlu penguatan dalam berpikir logis berdasarkan bukti serta kemauan untuk bekerja sama dalam kegiatan Dalam KSP, kegiatan pembelajaran perlu dirancang untuk mengembangkan nalar kritis melalui diskusi berbasis masalah dan Proyek kolaboratif. Kegiatan ekstrakurikuler seperti kerja bakti atau Proyek komunitas juga dapat memperkuat nilai gotong royong, sementara program berbasis Profil Pelajar Pancasila perlu diintegrasikan untuk menanamkan nilai-nilai karakter secara menyeluruh.

 

Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Berdasarkan laporan Rapor Pendidikan SMP Negeri 6 Jakarta tahun 2025, karakteristik Pendidik dan Tenaga Kependidikan di sekolah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di SMP Negeri 6 Jakarta memiliki karakteristik yang menjadi pilar kuat dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan lingkungan pendidikan yang kondusif. Karakteristik ini menjadi landasan penting dalam merancang Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) yang relevan dan efektif untuk memenuhi kebutuhan murid.

Berdasarkan laporan Rapor Pendidikan, PTK di SMP Negeri 6 Jakarta berada pada tingkat sedang (Skor 60,62), yang menunjukkan komitmen terhadap pengembangan profesional sedang berkembang. Sebagian PTK secara aktif mengikuti berbagai pelatihan, baik melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) maupun kegiatan pelatihan lainnya yang mencakup bidang pengetahuan studi, pedagogi, dan manajerial (Skor 77,50). Partisipasi dalam kegiatan pengembangan keprofesian ini mencerminkan semangat untuk terus meningkatkan kompetensi, yang menjadi kekuatan utama dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas.

Selain itu, guru-guru di SMP Negeri 6 Jakarta memiliki kemampuan yang baik (Skor 64) dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Mereka efektif dalam mengelola kelas, menerapkan disiplin positif, dan memberikan dukungan psikologis kepada Murid. Pendekatan ini membantu membangun suasana kelas yang mendukung perkembangan holistik murid, baik dari sisi akademik maupun emosional, sehingga memperkuat kualitas pembelajaran secara keseluruhan.

Kebiasaan reflektif juga menjadi salah satu ciri khas PTK di sekolah ini. Guru secara konsisten mengevaluasi praktik mengajar mereka, mencari cara untuk memperbaiki metode pembelajaran, dan mengeksplorasi pendekatan inovatif untuk meningkatkan keterlibatan murid. Guru aktif meningkatkan kualitas pembelajaran setelah melakukan refleksi pembelajaran yang telah lewat, mengeksplorasi referensi pengajaran baru, dan berinovasi menghadirkan pembelajaran yang memantik keterlibatan murid. Dukungan dari kepemimpinan instruksional kepala sekolah, yang secara aktif mengkomunikasikan visi-misi sekolah dan menyediakan sumber daya untuk refleksi, memperkuat budaya pembelajaran berkelanjutan di antara PTK. Kepemimpinan ini memastikan bahwa perencanaan dan praktik pembelajaran berorientasi pada peningkatan hasil belajar murid.

Namun, meskipun memiliki banyak kekuatan, terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat. Kemampuan PTK dalam memberikan dukungan psikologis kepada murid, meskipun sudah baik, masih dapat ditingkatkan untuk lebih memenuhi kebutuhan emosional dan sosial murid, terutama dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung. Selain itu, pengelolaan kurikulum satuan pendidikan menunjukkan adanya tantangan, terutama dalam hal implementasi yang konsisten untuk mendukung peningkatan hasil belajar. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan kompetensi PTK dalam merancang dan melaksanakan kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan murid.

Berdasarkan karakteristik ini, penyusunan KSP perlu mempertimbangkan beberapa strategi utama, yaitu :

  1. memanfaatkan komitmen PTK dalam pengembangan profesional dan kebiasaan refleksi untuk mendorong inovasi dalam metode pembelajaran, seperti pendekatan berbasis Proyek atau pembelajaran interaktif.
  2. menyediakan pelatihan tambahan yang fokus pada peningkatan kemampuan memberikan dukungan psikologis, sehingga guru dapat lebih peka terhadap kebutuhan emosional Murid.
  3. memperkuat kompetensi PTK dalam pengelolaan kurikulum melalui pelatihan atau mentoring, agar kurikulum yang dirancang lebih selaras dengan visi-misi sekolah dan kebutuhan Murid.
  4. mendorong kolaborasi antarPTK melalui komunitas belajar untuk berbagi praktik terbaik, terutama dalam manajemen kelas dan pengembangan strategi pembelajaran yang inovatif.

Dengan memanfaatkan kekuatan PTK dan mengatasi area yang perlu diperbaiki, KSP yang disusun di SMP Negeri 6 Jakarta dapat menjadi panduan yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mendukung perkembangan profesional PTK, dan memastikan lingkungan pendidikan yang inklusif dan mendukung bagi semua murid. Adapun data PTK di SMP Negeri 6 Jakarta adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Negeri 6 Jakarta

 
                         

 

No

Kategori

Status

Jumlah

Total

 

PNS

PPPK

KKI

Honor

L

P

 

L

P

L

P

L

P

L

P

     

 

1

Pendidik

6

15

3

4

1

2

0

0

10

21

31

 

2

Tenaga Kependidikan

1

1

-

-

9

-

0

0

10

1

11

 

3

Sertifikasi

4

13

1

4

0

1

0

0

5

18

23

 

                         

 

Tabel 3. Kualifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Negeri 6 Jakarta

                       

 

 

No

Kategori

Tingkat Pendidikan

 

SD

SMP

SMA

Diploma

S1

S2

 

1

Pendidik

-

-

-

-

22

9

 

2

Tenaga Kependidikan

-

-

4

-

7

-

 

                                           

 

  • Kualitas Pembelajaran

Kualitas pembelajaran di SMP Negeri 6 Jakarta, sebagaimana tercermin dalam Laporan Rapor Pendidikan Tahun 2025, menunjukkan kondisi yang mendukung perkembangan Murid (Skor  64) dengan sejumlah kekuatan yang patut dipertahankan, sekaligus beberapa aspek yang perlu diperkuat. Kualitas pembelajaran ini menjadi dasar penting dalam merancang strategi pendidikan yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan sekolah.

Pembelajaran di SMP Negeri 6 Jakarta ditandai dengan suasana kelas yang kondusif, didukung oleh manajemen kelas yang baik (Skor 68,58) dan penerapan disiplin positif oleh para pendidik. Guru-guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang teratur, memungkinkan murid untuk fokus pada proses pembelajaran. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang diterapkan menunjukkan adanya dukungan psikologis yang cukup baik (Skor 63,06), meskipun masih ada ruang untuk peningkatan dalam memberikan perhatian emosional dan umpan balik yang lebih konstruktif kepada murid. Metode pembelajaran yang digunakan juga beragam, dengan pendekatan adaptif dan interaktif yang mendorong aktivitas literasi dan numerasi, serta menciptakan iklim pembelajaran yang terbuka. Hal ini memperkuat keterlibatan Murid dalam proses belajar-mengajar.

Salah satu kekuatan utama adalah tingkat refleksi dan perbaikan pembelajaran oleh guru, yang menunjukkan komitmen tinggi untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran (Skor 71,93). Guru secara aktif melakukan refleksi atas praktik mengajar, mengeksplorasi referensi baru, dan menerapkan inovasi untuk memantik keterlibatan Murid. Dukungan kepemimpinan instruksional dari kepala sekolah juga menjadi faktor penting, dengan komunikasi visi-misi sekolah yang jelas dan penyediaan sumber daya untuk mendukung refleksi guru. Kepemimpinan ini memastikan bahwa pembelajaran berorientasi pada peningkatan hasil belajar Murid, meskipun pengelolaan kurikulum satuan pendidikan masih menghadapi tantangan dalam implementasi yang konsisten.

Namun, terdapat beberapa aspek yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Dukungan psikologis dalam pembelajaran, meskipun telah berjalan baik, perlu diperkuat untuk lebih memenuhi kebutuhan emosional Murid, terutama dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Selain itu, pengelolaan kurikulum sekolah menunjukkan adanya kelemahan (skor 62,69), yang mengindikasikan perlunya peningkatan kompetensi guru dalam merancang dan melaksanakan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan Murid. Penerapan praktik inovatif oleh guru juga masih dapat dioptimalkan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dinamis dan relevan.

Berdasarkan gambaran ini, kualitas pembelajaran di SMP Negeri 6 Jakarta  menawarkan fondasi yang kuat untuk pengembangan lebih lanjut. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sekolah perlu fokus pada penguatan dukungan psikologis melalui pelatihan guru yang menekankan pendekatan afektif, serta memperbaiki pengelolaan kurikulum melalui pendampingan atau pelatihan khusus. Selain itu, memanfaatkan kebiasaan reflektif guru untuk mendorong inovasi pembelajaran, seperti metode berbasis Proyek atau pembelajaran kolaboratif, akan memperkaya pengalaman belajar murid.

Dengan langkah- langkah ini, SMP Negeri 6 Jakarta dapat terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang mendukung perkembangan akademik dan karakter murid secara holistik.

  • Kondisi Geografi , Sosial, Budaya dan Ekonomi SMP Negeri 6 Jakarta

Berdasarkan laporan Rapor Pendidikan SMP Negeri 6 Jakarta tahun 2025, karakteristik Sosial-Ekonomi-Budaya Satuan Pendidikan dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Sosial: SMP Negeri 6 Jakarta berdomisili di Jl. Bulak Timur I/7 Kelurahan Klender, Kecamatan Duren Sawit, Kota Administrasi Jakarta Timur, secara geografis terletak di Jalan Raya perlintasan Jakarta – Bekasi yang selalu padat dengan lalu lintas kendaraan. Berdasarkan analisis konteks yang dilakukan, SMP Negeri 6 Jakarta sebagai satuan pendidikan yang diminati mayoritas penduduk di kota sekitar, dengan potensi wilayah/letak yang strategis di berada pada daerah pinggiran Ibu Kota, dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam, sikap dan perilaku masyarakat kota besar yang individual dan ekslusif melebur dengan sifat masyarakat Betawi asli yang tercermin dengan masih tingginya semangat gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan sopan santun masih terjaga serta kehidupan beragama yang

Kekuatan lain diantaranya:

  • Murid berasal dari mayoritas warga kelurahan Klender yang secara umum peduli terhadap pendidikan di masyarakat;
  • sekolah terletak di lingkungan sekolah negeri dan swasta baik SDN Klender 13, SMP Swasta Budaya, dan SMA Negeri 59 yang akan memudahkan sekolah untuk melakukan koordinasi dan komunikasi;
  • sarana pendukung layanan proses pembelajaran yang cukup memadai dan merupakan gedung baru;
  • dekat dengan Kantor Kelurahan Klender, Puskesmas, kantor PMI, dan tidak terlalu jauh dari Kantor Walikota Jakarta Timur dengan lingkungan yang cukup asri dan rindang.

Pendekatan disiplin positif yang diterapkan oleh guru mendorong murid untuk saling menghormati dan bekerja sama, menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan sosial. Namun, dalam hal keberagaman latar belakang sosial, sekolah masih perlu memperkuat upaya untuk memastikan inklusivitas penuh, sehingga semua Murid merasa diterima tanpa memandang perbedaan sosial. Sekolah telah memulai langkah untuk membangun nilai kebinekaan global melalui kegiatan yang mempromosikan toleransi, seperti diskusi tentang keragaman budaya, namun kegiatan ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam pembelajaran sehari-hari.

Untuk mendukung pengembangan aspek sosial, Kurikulum SMP Negeri 6 Jakarta mengintegrasikan kegiatan intrakurikuler, seperti Proyek kolaboratif lintas budaya, dan ekstrakurikuler, seperti simulasi kehidupan bermasyarakat, guna memperkuat keterampilan sosial dan nilai kebersamaan murid.

  1. Ekonomi: Secara ekonomi, mayoritas keluarga murid di SMP Negeri 6 Jakarta berasal dari latar belakang menengah ke bawah, dengan sebagian besar orang tua bekerja sebagai pekerja sektor informal (sektor angkutan, pedagang kecil/wirausaha, buruh lepas, karyawan swasta). Kondisi ini berdampak pada keterbatasan dalam menyediakan kebutuhan pendidikan tambahan, seperti akses ke teknologi pembelajaran, seperti perangkat untuk pembelajaran daring. Sekolah telah memanfaatkan anggaran BOS dan BOP untuk mendukung kebutuhan dasar, seperti pengadaan bahan ajar dan penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler, namun keterbatasan anggaran masih membatasi pengembangan sumber belajar yang lebih inovatif, seperti laboratorium sederhana atau media digital interaktif. Beberapa murid menghadapi tantangan dalam mengakses teknologi, yang memengaruhi keterlibatan mereka dalam pembelajaran berbasis digital. Dalam penyusunan KSP, sekolah perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang hemat biaya, seperti memanfaatkan sumber daya lokal untuk Proyek pembelajaran atau menciptakan bahan ajar berbasis lingkungan. Selain itu, kemitraan dengan komunitas atau pihak eksternal dapat diperkuat untuk menyediakan fasilitas tambahan, dan program bantuan seperti beasiswa atau distribusi alat tulis dapat dipertimbangkan untuk mendukung murid dari keluarga kurang mampu.
  2. Budaya: Dari sisi budaya, SMP Negeri 6 Jakarta berada di tengah masyarakat dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam, sikap dan perilaku masyarakat kota besar yang individual dan ekslusif melebur dengan sifat masyarakat Betawi asli yang tercermin dengan masih tingginya semangat gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan sopan santun masih terjaga serta kehidupan beragama yang baik. Nilai-nilai ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, seperti melalui kegiatan budaya, misalnya perayaan hari besar keagamaan, upacara adat, atau pementasan seni tradisional, yang memperkuat identitas budaya murid.

Sekolah telah mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam beberapa aspek pembelajaran, seperti melalui cerita rakyat atau kegiatan seni, namun penerapannya belum merata di semua mata pelajaran. Meskipun demikian, pemahaman Murid terhadap keberagaman budaya di luar konteks lokal masih perlu ditingkatkan untuk mendukung dimensi kebinekaan global dalam delapan dimensi profil lulusan .

  • Budaya Religius

Budaya religius di SMP Negeri 6 Jakarta berjalan sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembiasaan di jam ke no; ( 06.30 – 07.00 ). Di setiap hari Selasa  pagi berupa kegiatan sholat duha dan tadarus bersama bagi siswa beragama Islam, dan yang non muslim melaksanakan ibadah keagamaan juga dipandum guru pendamping. Kebiasaan Murid dan guru melaksanakan ibadah sholat duhur di sekolah secara rutin juga dilaksanakan setiap hari setelah KBM. Bagi yang beragama Islam, selalu melakukan shalat duhur berjamaah di sekolah di waktu shalat. Adzan pun selalu berkumandang setiap sudah masuk waktu shalat. Adanya jadwal khotbah jumat dan agenda Jumat Berkah juga rutin dilaksanakan setiap hari Jumat. Bagi warga sekolah yang beragama non Muslim, secara rutin melakukan ibadah bersama di setiap jam kegiatan keagamaan. Kegiatan perayaan keagamaan untuk semua agama yang ada juga selalu diselenggarakan. Komunitas agama juga berkembang dengan sehat di Negeri 6  Jakarta. Kegiatan pengembangan sikap religius Murid secara rutin dilakukan setiap hari atau setiap minggu, termasuk kegiatan rutin tahunan.

Dalam kegiatan tahunan dilakukan kegiatan Maulid Nabi Muhammad Saw, pesantren Ramadhan untuk agama Islam dan kegiatan Natal bersama untuk Murid beragama Kristen. Sementara tidak ada Murid yang beragama lain maka tidak diagendakan kegiatan untuk agama lainnya.

  • Budaya Literasi dan Kreasi

Murid SMP Negeri 6 Jakarta memiliki budaya literasi yang baik. Kegiatan literasi yang menjadi budaya di SMP Negeri 6 Jakarta di antaranya:

  • Jurnal Litnum, di jam ke nol setiap hari Kamis dan Jumat
  • Adanya pojok baca pada setiap lantai gedung atau setiap tingkat rombel
  • Optimalisasi penggunaan Perpustakaan dalam kunjungan wajib secara berkala
  • Menjadi sekolah Mandiri dengan menggunakan Kurikulum Nasional, Sekolah memprogramkan Literasi yang terintegrasi pada seluruh mata pelajaran atau pembelajaran intra kurikuler
  • Pada bulan bahasa diselenggarakan beberapa lomba yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi Murid. Beberapa lomba tersebut antara lain: lomba baca puisi, membuat pantun, tari dan lainnya
  • Penampilan kreatifitas sebagi bentuk lanjutan dari literasi dan numerasi
  • Budaya Peduli Lingkungan

SMP Negeri 6 Jakarta merupakan sekolah yang mendukung program Sekolah Bersih yang berwawasan lingkungan atau Peduli lingkungan dengan berbagai kegiatan  melalui beberapa kegiatan : Pembiasaan membawa makanan Sehat dari rumah agar Murid mengonsumsi makanan sehat dan higienis dengan tumbler air minum masing-masing Murid. Mewujudkan sekolah minimal sampah plastik.

Kegiatan intrakurikuler yang berupa Project Penguatan Profil pelajar Pancasila juga sangat diminati oleh siswa. Mereka mengimplementasikan materi yang diperoleh di kelas dengan lingkungan sekitar. Tindak lanjut dari proyek tersebut, misalnya Biopori dan pencegahan banjir dengan resapan air yang optimal.

  • Budaya Bergotong royong

SMP Negeri 6 Jakarta memiliki budaya yang kental akan semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Budaya ini salah satu ciri khas bangsa Indonesia yang mengedepankan kerja sama dan kebersamaan dalam setiap aktivitas, termasuk di lingkungan sekolah. Contoh budaya gotong royong yang dipupuk subur di sekolah, misalnya: kebersihan lingkungan sekolah bersama, pelaksanaan gelar karya Proyek, kegiatan ekstrakurikuler, penyelesaian dokumen sekolah, pelaksanaan program sekolah, piket kelas dan sebagainya.

  • Budaya Berorganisasi

Organisasi Murid di SMP Negeri 6 Jakarta tergolong maju. Kegiatan kesiswaan berjalan aktif. Kegiatan ekstrakurikuler hampir semuanya memiliki organisasi. Murid bersemangat dalam mengikuti berbagai organisasi yang ada di sekolah. Murid mengembangkan bakat dan minat yang dimilikinya melalui organisasi-organisasi siswa di sekolah.

 

   Tabel 4. Persentase Murid berdasarkan Agama

No.

Agama

Jumlah

Pesentase

1

Islam

623

96,89%

2

Protestan

18

2,80%

3

Khatolik

2

0,31%

4

Hindu

0

0,00%

5

Budha

0

0,00%

 

Jumlah

645

100,00%

Tabel 5. Persentase Murid berdasarkan Jarak tempat tinggal ke sekolah

No.

Jarak

Jumlah

Pesentase

1

< 1 Km

316

50,24%

2

2 - 3 Km

170

25,94%

3

3 - 5 Km

96

14,03%

4

6 - 7 Km

63

9,79%

 

Jumlah

645

100%

 

 

 

 

Tabel 6. Pesentase Murid Berdasarkan Penghasilan Orang tua

No.

Penghasilan Orang Tua

Jumlah

Pesentase

1

± Rp. 1000.000,-

196

30,48%

2

1  - 3 Jt

255

39,66%

3

3,1 - 5 jt

137

21,00%

4

Lebih dari 5 jt

57

8,86%

 

Jumlah

645

100%

Tabel 7. Persentase Murid Berdasarkan Penerima KJP, PIP, dan Keduanya

No.

Jenis Bantuan

Jumlah

Persentase

1

KJP

232

36,08%

2

PIP

177

27,53%

3

KJP dan KIP

32

4,67%

4

Tidak Menerima

204

31,73%

 

Jumlah

645

100%

       

Tabel 8. Persentase Murid Berdasarkan Pendidikan Orang tua

No.

Jenis Bantuan

Jumlah

Persentase

1

SD / Sederajat

91

14,15%

2

SMP / Sederajat

108

16,80%

3

SMA / SMK / Sederajat

353

54,90%

4

D3

26

4,04%

5

D4 / S1 / Sederajat

60

9,02%

6

S2

7

1,09%

 

Jumlah

645

100%

 

  • Iklim Keamanan Satuan Pendidikan

Satuan pendidikan memiliki lingkungan satuan pendidikan yang aman, terlihat dari kesejahteraan psikologis yang baik (skor 73,00) dan rendahnya kasus perundungan, hukuman fisik, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan narkoba. Satuan pendidikan diharapkan dapat mempertahankan kualitas warga satuan pendidikan dalam mencegah dan menangani kasus untuk menciptakan iklim keamanan di lingkungan satuan pendidikan, dan upaya pencegahan ini didukung oleh komunikasi terbuka antara guru, murid, dan orang tua. Namun, meskipun lingkungan sekolah secara umum aman, dukungan psikologis untuk mengatasi kebutuhan emosional murid (skor 63,52) masih perlu diperkuat. Beberapa Murid membutuhkan perhatian lebih untuk merasa sepenuhnya diterima, terutama mereka yang berasal dari latar belakang sosial yang berbeda. Sekolah telah menunjukkan komitmen untuk meningkatkan keamanan emosional melalui kegiatan seperti konseling sederhana dan pembinaan oleh guru, tetapi pelatihan tambahan bagi pendidik dalam menangani isu psikologis dapat lebih meningkatkan iklim keamanan. Dalam KSP, sekolah perlu mengintegrasikan program anti-bullying yang lebih terstruktur dan kegiatan yang mempromosikan kesejahteraan emosional, seperti sesi berbagi perasaan atau kegiatan kelompok yang membangun empati.

  • Iklim Kebhinekaan

Satuan pendidikan sudah mampu menghadirkan suasana proses pembelajaran yang menjunjung tinggi toleransi agama/kepercayaan dan budaya (skor 72); mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas; mendukung kesetaraan agama/kepercayaan, dan budaya; serta memperkuat nasionalisme. Sekolah telah mengadakan kegiatan yang mempromosikan keberagaman, seperti perayaan hari besar keagamaan dan kegiatan seni tradisional, yang membantu murid mengenal budaya lokal. Namun, pemahaman terhadap keberagaman budaya di luar konteks lokal masih terbatas, dan kegiatan yang memperkenalkan perspektif budaya nasional atau global belum sepenuhnya terintegrasi dalam pembelajaran. Guru telah berupaya mengintegrasikan nilai-nilai kebinekaan dalam beberapa mata pelajaran, misalnya melalui diskusi tentang keragaman budaya, tetapi penerapannya belum konsisten. Untuk mendukung kebinekaan, KSP perlu mengembangkan pembelajaran berbasis Proyek yang mengangkat tema keberagaman, seperti Proyek Penguatan Profil Lulusan yang mengeksplorasi budaya lokal dan nasional. Kegiatan ekstrakurikuler, seperti kelompok diskusi budaya atau pementasan seni lintas budaya, juga dapat memperkuat pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman.

  • Analisis potensi dan kekhasan daerah setempat yang penting untuk diketahui, diberdayakan atau dilestarikan

SMP Negeri 6 Jakarta terletak di lingkungan masyarakat yang kaya akan budaya Betawi, dengan nilai-nilai tradisi keagamaan, sopan santun, dan penghormatan kepada yang lebih tua sebagai ciri khas yang menonjol. Potensi dan kekhasan daerah ini tercermin dalam beberapa indikator yang relevan untuk pengembangan pendidikan. Nilai budaya lokal, seperti tradisi keagamaan dan sopan santun, menjadi kekuatan utama yang terintegrasi dalam kehidupan sekolah, terlihat dari keterlibatan aktif orang tua dan komunitas dalam kegiatan seperti perayaan keagamaan di sekolah. Kegiatan berbasis budaya, seperti perayaan hari besar keagamaan atau pementasan seni tradisional, memperkuat identitas budaya murid dan menciptakan iklim kebersamaan yang mendukung pembelajaran.

Daerah Kelurahan Klender Kecamatan Duren Sawit juga memiliki potensi ekonomi usaha kecil dan menengah, dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai pedagang dan karyawan swasta. Hal ini memungkinkan pemanfaatan kegiatan lokal, seperti wirausaha, sebagai bahan ajar dalam Proyek pembelajaran, misalnya mempelajari cara membuat tempe/tahu atau membuat produk sederhana dari bahan mentah. Konteks wirausaha ini menjadi kekhasan yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran untuk membuatnya lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari Murid. Namun, keterbatasan akses ke teknologi dan sumber belajar tambahan menjadi tantangan yang perlu diatasi dengan strategi pembelajaran yang hemat biaya, seperti menggunakan bahan ajar berbasis lingkungan.

Dari sisi kebinekaan, budaya Jakarta merupakan perpaduan budaya suku-suku di Indonesia, sekolah memiliki peluang untuk memperkenalkan keberagaman budaya melalui kegiatan yang menghubungkan tradisi lokal dengan perspektif nasional. Saat ini, pemahaman keberagaman budaya di luar konteks lokal masih terbatas, sehingga perlu penguatan melalui pembelajaran yang lebih terintegrasi.

  • Analisis keterlibatan orang tua untuk mendukung perkembangan Murid

Di SMP Negeri 6 Jakarta, keterlibatan orang tua dalam mendukung perkembangan murid menunjukkan potensi yang kuat, dengan beberapa aspek yang dapat diperkuat untuk menciptakan dampak yang lebih besar. Orang tua di lingkungan sekolah ini aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sekolah, seperti rapat komite sekolah, perayaan hari besar keagamaan, dan kegiatan ekstrakurikuler berbasis komunitas. Partisipasi ini mencerminkan semangat kolaborasi yang menjadi masyarakat yang maju seperti Jakarta, di mana orang tua dengan antusias mendukung acara seperti selebrasi atau festival budaya sekolah. Keterlibatan ini memperkuat iklim kebersamaan dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sosial murid, membantu mereka merasa didukung oleh komunitas yang lebih luas.

Komunikasi antara orang tua dan guru juga berjalan dengan baik, dengan adanya sesi konsultasi rutin untuk membahas perkembangan akademik dan perilaku peserta

didik. Guru secara proaktif melibatkan orang tua melalui laporan perkembangan anak dan diskusi tentang kebutuhan belajar, yang membantu menjembatani pembelajaran di sekolah dan di rumah. Namun, komunikasi ini masih dapat ditingkatkan, terutama dalam hal keteraturan dan kedalaman diskusi, untuk memastikan semua orang tua, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau sumber daya, dapat terlibat secara efektif. Beberapa orang tua, terutama dari keluarga dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, menghadapi tantangan dalam menyediakan waktu atau fasilitas untuk komunikasi yang lebih intensif.

Dalam hal dukungan pembelajaran di rumah, masih ada orang tua yang belum berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, karena keterbatasan faktor ekonomi. Mayoritas keluarga Murid bekerja sebagai pekerja harian/pedagang/ojek atau pekerja sektor informal, yang kadang-kadang membatasi kemampuan mereka untuk menyediakan sumber belajar tambahan, seperti buku atau perangkat teknologi. Meski demikian, orang tua menunjukkan komitmen untuk memotivasi anak-anak mereka, misalnya dengan mendorong kebiasaan membaca atau membantu mengerjakan tugas sederhana. Sekolah telah berupaya mendukung orang tua melalui penyediaan bahan ajar dari dana BOS, tetapi program khusus untuk membimbing orang tua dalam mendukung literasi dan numerasi di rumah masih perlu dikembangkan.

Keterlibatan orang tua dalam kegiatan berbasis komunitas juga menjadi kekuatan yang menonjol. Orang tua sering berpartisipasi dalam kegiatan seperti perayaan keagamaan, Proyek penguatan profil pelajar Pancasila, atau mendukung Proyek komunitas, seperti memberikan pelatihan pembuatan tempe dan pembuatan lilin dari minyak jelanta. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat hubungan antara sekolah dan komunitas, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai gotong royong dan kebinekaan pada murid. Namun, keterlibatan ini masih didominasi oleh kelompok orang tua tertentu, dan sekolah perlu mendorong partisipasi yang lebih merata dari seluruh komunitas orang tua, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau sumber daya

  • Analisis prestasi/keterlibatan Murid dalam bidang akademik dan non Akademik

Di SMP Negeri 6 Jakarta, prestasi dan keterlibatan Murid dalam bidang akademik dan non-akademik menunjukkan potensi yang baik dengan beberapa area yang memerlukan penguatan untuk mendukung perkembangan holistik. Dalam aspek akademik, kemampuan literasi murid berada pada tingkat yang baik (Skor 86,67%), dengan sebagian besar mampu memahami informasi implisit dalam teks dan membuat simpulan yang relevan. Sebagian kecil murid bahkan mampu mengintegrasikan informasi lintas teks dan bersikap reflektif, menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang kuat. Namun, kelemahan terlihat pada pemahaman teks sastra dan analisis teks yang lebih kompleks, yang menunjukkan perlunya penguatan dalam keterampilan membaca dan interpretasi.

Dalam numerasi, murid menunjukkan kemampuan yang Baik (84,44%) dalam mengaplikasikan konsep matematika, terutama pada domain aljabar dan kemampuan menalar. Meski demikian, pemahaman konsep bilangan dan pengolahan data masih menjadi tantangan, yang memerlukan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan interaktif untuk meningkatkan prestasi akademik.

Dalam aspek non-akademik, murid menunjukkan prestasi yang baik dalam penerapan nilai-nilai karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila. Mereka konsisten menunjukkan sikap akhlak mulia dan kebinekaan global, seperti menghormati teman dari latar belakang berbeda dan menjalani nilai-nilai moral dalam interaksi sehari-hari. Namun, dimensi nalar kritis dan gotong royong masih perlu diperkuat, karena beberapa Murid belum sepenuhnya mampu berpikir logis berdasarkan bukti atau menunjukkan kerja sama yang konsisten dalam kegiatan kelompok. Keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi kekuatan, dengan banyak murid aktif dalam kelompok seni tradisional, pramuka, atau klub literasi, yang mendukung pengembangan kreativitas dan keterampilan sosial. Kegiatan ini memberikan ruang bagi Murid untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka di luar akademik, meskipun partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler masih perlu diperluas untuk melibatkan lebih banyak murid.

Keterlibatan murid dalam Proyek berbasis komunitas, seperti kerja bakti atau kegiatan budaya lokal, menunjukkan semangat gotong royong yang selaras dengan budaya Betawi di daerah Klender. Kegiatan ini memperkuat rasa kebersamaan dan keterlibatan dengan komunitas, sekaligus membantu menanamkan nilai-nilai seperti kerja sama dan tanggung jawab sosial. Namun, keterlibatan ini belum merata, karena beberapa Murid menghadapi keterbatasan waktu atau dukungan dari keluarga untuk ikut serta secara aktif. Sekolah telah berupaya mendukung keterlibatan ini melalui kegiatan yang melibatkan orang tua dan komunitas, tetapi perlu strategi tambahan untuk memastikan semua murid dapat berpartisipasi.

  • Kemitraan

Dalam rangka meningkatkan layanan kepada Murid dan mengatasi kelemahan serta kendala yang dialami oleh sekolah, maka SMP Negeri 6Jakarta melakukan berbagai upaya, antara lain menjalin kemitraan/kerja sama dengan berbagai pihak sebagai berikut :

 

Tabel 9. Kemitraan / Kerja sama dengan Pihak Lain.

No       Jenis Kemitaan                                                     Tujuan

1

Puskesmas

kerjasama pelaksanaan Jumat Bergizi, dan pemberian Tablet Tambah darah, screening kesehatan siswa, dan kegiatan UKS, pemeriksaan kantin sekolah dan penyuluhan untuk petugas kantin sekolah; penyuluhan kesehatan kepada siswa setiap 1 (satu) tahun sekali.

2

Polsek

Memberikan pengetahuan tentang kedisiplinan, ketertiban, narkoba, kenakalan remaja, radikalisme serta hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kriminalitas

3

Organisasi Masyarakat

 

Mengadakan pembinaan dan latihan menenun untuk menjaga kelestarian dan mengembangkan budaya lokal etnis Kolana

4

PMI Jakarta Timur

kerjasama pelaksanaan ekstrakurikuler PMR

5

Kelurahan

 

mempermudah koordinasi dengan Pol PP dan PPSU demi keamanan dan kebersihan di sekitar lingkungan sekolah

 

Pencarian


Kontak


Alamat :

Jl. Bulak Timur I No.7 3, RT.3/RW.16, Klender, Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13470

Telepon :

02138851086

Fax :

02138851086

Email :

info@smpnegeri6jakarta.sch.id

Website :

https://www.smpnegeri6jakarta.sch.id

Media Sosial :

Banner


Kalender


Januari 2026

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb